Di Balik Panggilan ‘Ayah’, Ada Penyesalan yang Tak Selesai
Oleh: R
Aku pernah percaya
bahwa menjadi ayah berarti cukup
dengan bekerja keras,
membawa uang pulang,
dan memastikan dapur tetap mengepul.
Ternyata aku salah.
Sebab seorang ayah
bukan hanya tentang apa yang dibawa ke rumah,
tetapi juga tentang bagaimana ia menjaga hati
orang-orang yang menunggunya.
Dan aku gagal menjaganya.
Di rumah kecil itu
ada perempuan yang pernah mencintaiku
tanpa syarat.
Perempuan yang tetap bertahan
meski sering menangis diam-diam
saat malam mulai larut.
Lalu ada anak gadisku,
tiga tahun usianya,
dengan mata bening penuh percaya
bahwa ayahnya adalah lelaki terbaik di dunia.
Dan justru itu
yang paling menghancurkanku.
Karena di belakang senyum mereka,
aku menyimpan pengkhianatan.
Aku pergi terlalu jauh
dari janji yang dulu kuucapkan sendiri.
Aku membiarkan diriku hanyut
dalam kesalahan yang perlahan
mengubah rumah menjadi tempat paling sunyi.
Istriku mulai banyak diam.
Tatapannya tak lagi sama.
Ia masih menyiapkan makan,
masih menyambutku pulang,
tetapi aku tahu
ada hati yang retak
di balik ketabahannya.
Sedangkan anak kecilku
masih berlari memeluk kakiku
setiap aku membuka pintu.
“Ayah pulang!”
Suara itu seharusnya menjadi pengingat
bahwa aku punya alasan untuk tetap setia.
Namun aku terlambat menyadarinya.
Kadang aku memandangnya tertidur,
lalu merasa menjadi manusia paling hina.
Sebab anak sekecil itu
memberiku cinta paling tulus,
sementara aku pulang
membawa luka untuk ibunya.
Aku takut suatu hari nanti
ia tumbuh besar
dan mengetahui bahwa ayah yang ia banggakan
pernah menghancurkan hati ibunya sendiri.
Aku takut
matanya tak lagi memandangku dengan bangga.
Sebab tidak ada yang lebih menyakitkan
bagi seorang ayah
selain kehilangan penghormatan
dari anaknya sendiri.
Kini aku mengerti,
pengkhianatan bukan hanya soal dua orang dewasa.
Ia adalah luka
yang gema sunyinya bisa tinggal lama
di dalam ingatan seorang anak.
Dan bila hari ini aku menulis semua ini,
bukan karena aku ingin dikasihani.
Aku hanya sedang mengakui
bahwa aku pernah menjadi lelaki
yang mengecewakan keluarganya sendiri.
Lelaki yang terlalu sibuk mencari pelarian,
hingga lupa
di rumah ada dua hati
yang menjadikannya dunia.
Dan di hadapan mata anakku sendiri,
aku akhirnya sadar
aku telah menjadi lelaki yang gagal.