Di Bawah Langit yang Sama, Aku Pernah Kehilangan Diriku Sendiri
Oleh : RMA
Ragam,- Ada masa dalam hidup ketika malam terasa lebih jujur daripada siang.
Ketika keramaian tidak lagi mampu menenggelamkan suara-suara kecil di dalam kepala.
Ketika tawa hanyalah cara paling sunyi untuk menyembunyikan luka.
Dan aku pernah hidup di masa itu.
Di bawah langit yang sama seperti orang-orang lain menjalani hidupnya dengan tenang, aku pernah duduk sendirian menatap gelap sambil bertanya pada diri sendiri, “Sejak kapan aku menjadi orang asing bagi hatiku sendiri?”
Sebab ternyata, manusia tidak selalu hancur karena kehilangan dunia.
Kadang manusia hancur karena terlalu lama kehilangan dirinya sendiri.
Ada luka yang tidak berdarah, tetapi perlahan membunuh jiwa.
Ada kehampaan yang tidak terlihat oleh siapa pun, tetapi diam-diam menggerogoti hati setiap hari. Dan yang paling menyakitkan, semua itu sering terjadi ketika seseorang terlihat paling baik-baik saja.
Aku pernah menjadi manusia seperti itu.
Aku tertawa di tengah banyak orang, tetapi pulang membawa sesak yang tidak mampu dijelaskan. Aku berbicara dengan penuh keyakinan, tetapi diam-diam kehilangan arah hidup. Aku tampak kuat di mata manusia, padahal di dalam diriku ada sesuatu yang perlahan runtuh tanpa suara.
Carl Rogers pernah berkata, “Penderitaan terbesar manusia muncul ketika ada jarak antara siapa dirinya sebenarnya dan siapa yang ia paksa tampilkan di hadapan dunia.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan keras bagi hidupku.
Sebab terlalu lama aku hidup sebagai seseorang yang ingin diterima semua orang, hingga lupa bagaimana caranya menerima diriku sendiri.
Aku mengikuti arus.
Mengikuti apa yang dianggap normal.
Mengikuti cara hidup lingkungan di sekitarku.
Aku tertawa ketika semua orang tertawa. Aku ikut melakukan hal-hal yang sebenarnya ditolak hatiku hanya agar tidak dianggap berbeda.
Dan tanpa kusadari, aku mulai kehilangan sesuatu yang paling penting dalam hidup manusia suara nurani.
Awalnya kehancuran itu datang dengan sangat pelan.
Tidak seperti badai besar yang langsung merobohkan segalanya. Ia hadir seperti hujan kecil yang terus menetes sedikit demi sedikit hingga akhirnya menenggelamkan hati.
Aku mulai terbiasa menunda kebaikan.
Terbiasa mengabaikan rasa bersalah.
Terbiasa berkata, “Tidak apa-apa,” pada hal-hal yang sebenarnya melukai diriku sendiri.
Soren Kierkegaard pernah menulis, “Bentuk keputusasaan paling dalam adalah ketika seseorang kehilangan dirinya sendiri.”
Dan aku pernah berdiri tepat di jurang itu.
Aku masih ingat bagaimana dulu hatiku begitu mudah tersentuh. Sedikit saja melakukan kesalahan, dada terasa sesak. Sedikit saja melukai orang lain, pikiranku tidak tenang semalaman.
Tetapi waktu mengubah banyak hal.
Aku mulai terbiasa menipu perasaan sendiri.
Terbiasa memakai topeng agar terlihat kuat.
Terbiasa memaksa diri tersenyum meski hati sedang runtuh.
Dan ironisnya, semakin aku pandai menyembunyikan luka, semakin banyak orang mengira hidupku baik-baik saja.
Betapa aneh dunia ini.
Kadang orang yang paling hancur justru terlihat paling ceria.
Kadang orang yang paling kesepian justru paling pandai membuat orang lain tertawa.
Dan kadang orang yang paling membutuhkan pertolongan adalah mereka yang terus berkata, “Aku tidak apa-apa.”
Aku pernah sibuk menjaga citra di hadapan manusia.
Sibuk terlihat sempurna.
Sibuk mengejar pengakuan dari dunia yang sebenarnya tidak pernah benar-benar peduli apakah aku bahagia atau tidak.
Aku takut dianggap gagal.
Takut dianggap lemah.
Takut dipandang buruk oleh orang lain.
Namun dalam diam, aku kehilangan jiwaku sendiri.
Viktor Frankl pernah mengatakan, “Manusia dapat bertahan dalam penderitaan apa pun selama ia masih memiliki makna hidup.”
Dan aku pernah hidup tanpa makna itu.
Aku memiliki banyak hal, tetapi tidak merasakan hidup. Aku berada di tengah keramaian, tetapi merasa sangat sendirian. Ada malam-malam ketika aku hanya menatap langit-langit kamar dengan dada penuh sesak, seolah ada kehampaan besar yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata.
Saat itulah aku mulai memahami satu hal yang selama ini kuabaikan:
Hati yang jauh dari Tuhan tidak akan pernah benar-benar tenang.
Dunia memang pandai memberi hiburan sementara.
Ia membuat manusia lupa sejenak.
Tetapi ia tidak pernah benar-benar menyembuhkan.
Semakin aku mencoba menutupi kekosongan dengan keramaian, semakin aku sadar bahwa jiwaku sedang kelelahan.
Dan benar, Tuhan tidak pernah membiarkan manusia terus hidup dalam kepalsuan.
Ada waktunya semua topeng jatuh.
Ada waktunya manusia dipertemukan dengan dirinya sendiri.
Ada waktunya hati dipaksa melihat semua luka yang selama ini disembunyikan.
Dan ketika masa itu datang, aku runtuh sepenuhnya.
Penyesalan menghantamku tanpa ampun.
Aku menangis mengingat betapa banyak waktu yang telah kubuang hanya demi diterima manusia lain. Betapa sering aku mengorbankan hati sendiri demi terlihat baik di mata dunia. Betapa jauh langkah kakiku meninggalkan diriku yang dulu begitu sederhana.
Aku marah kepada diriku sendiri.
Marah karena terlalu lemah melawan arus.
Marah karena terlalu mudah terbawa lingkungan.
Marah karena berkali-kali tahu sesuatu itu salah, tetapi tetap melakukannya hanya agar tidak merasa sendirian.
Namun mungkin memang benar kata Jalaluddin Rumi, “Luka adalah tempat cahaya masuk ke dalam dirimu.”
Sebab justru di titik paling hancur itulah aku mulai mengenali diriku sendiri.
Penyesalan memang menyakitkan.
Tetapi kadang penyesalan adalah jalan pulang yang diam-diam menyelamatkan manusia.
Aku mulai mengerti bahwa tidak semua keramaian membawa kebahagiaan. Tidak semua yang dianggap wajar oleh dunia adalah sesuatu yang benar. Dan tidak semua yang membuat manusia tertawa mampu membuat hatinya hidup.
Ada banyak manusia yang tampak bercahaya di luar, tetapi sesungguhnya gelap di dalam dirinya sendiri.
Aku pernah menjadi salah satunya.
Kini aku hanya ingin belajar menjadi manusia yang lebih jujur kepada hati sendiri. Aku tidak ingin lagi hidup seperti “ikan mati” yang terus mengikuti arus tanpa tahu ke mana akan dibawa. Aku ingin menjadi manusia yang berani melawan arus meski harus terluka. Berani berkata tidak meski harus kehilangan banyak orang. Berani berjalan sendiri daripada harus kehilangan arah hidup.
Karena ternyata, menjadi berbeda demi menjaga hati jauh lebih baik daripada ikut ramai-ramai menuju kehancuran.
Hari ini aku sadar, menjadi manusia baik bukan berarti tidak pernah jatuh dalam dosa.
Menjadi manusia baik adalah ketika ia mau mengakui kesalahannya. Mau menangis atas dosa-dosanya. Mau kembali belajar memperbaiki diri meski berkali-kali gagal.
Aku tahu aku belum sepenuhnya berubah.
Aku masih sering kalah oleh diriku sendiri.
Masih sering jatuh pada kesalahan yang sama.
Tetapi setidaknya hari ini aku tidak lagi lari dari kenyataan bahwa aku membutuhkan Tuhan lebih dari apa pun di dunia ini.
Dan jika suatu hari tulisan ini sampai kepada seseorang yang merasa hidupnya terlalu rusak, terlalu kotor, atau terlalu jauh untuk kembali, maka dengarlah satu hal ini baik-baik:
Tidak ada manusia yang terlalu hina untuk mendapatkan ampunan Tuhan.
Selama napas masih berhembus, pintu pulang itu belum pernah ditutup.
Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa hati manusia ibarat cermin. Dosa membuatnya keruh, tetapi penyesalan dan kejujuran kepada Tuhan mampu membersihkannya kembali.
Maka seburuk apa pun masa lalu seseorang, harapan untuk berubah tidak pernah benar-benar mati.
Sebab pada akhirnya, kita semua hanyalah manusia-manusia rapuh yang sedang belajar bertahan di tengah dunia yang begitu bising. Manusia-manusia yang diam-diam sedang berperang melawan ego, melawan luka, melawan dosa, dan melawan dirinya sendiri setiap hari.
Dan mungkin, hidup memang bukan tentang siapa yang paling suci.
Melainkan tentang siapa yang masih memiliki hati untuk menyesal… lalu perlahan kembali mencari cahaya, meski sebelumnya pernah begitu lama tenggelam dalam gelap.
Karena di bawah langit yang sama ini, ternyata bukan hanya aku yang pernah kehilangan diri sendiri.
Ada banyak hati yang diam-diam sedang mencari jalan pulang.(*)