Kadin Kaltim Gaspol Ekspor UMKM ke Malaysia, “Trade Revolution” Disiapkan untuk Tembus Pasar Global
SAMARINDA,Panrita Post - Kamar Dagang dan Industri Kalimantan Timur (Kadin Kaltim) terus mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya sektor makanan dan minuman, untuk menembus pasar ekspor. Upaya ini diwujudkan melalui kegiatan business matching dengan pembeli internasional dari Malaysia.
Kegiatan tersebut mempertemukan 21 UMKM asal Kalimantan Timur dengan delegasi Malaysian International Islamic Chamber of Commerce and Industry (MIICCI). Acara berlangsung di Aula Keminting, Kantor DPPKUKM Kalimantan Timur di Samarinda, Selasa (14/4/2026).
Ketua Kadin Kaltim, Putri Amanda, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi memperkuat daya saing pelaku usaha lokal di tengah terbukanya peluang pasar global. Menurutnya, arah kebijakan pembangunan daerah sebenarnya sudah berada di jalur yang tepat, terutama dalam mendorong hilirisasi dan investasi.
Namun demikian, ia menilai efektivitas implementasi masih menjadi tantangan. “Kaltim tidak kekurangan investasi. Persoalannya ada pada kualitas dan dampaknya,” ujarnya.
Putri menyoroti bahwa investasi yang masuk masih didominasi sektor ekstraktif dan belum sepenuhnya memberikan nilai tambah bagi daerah. Dampaknya, penyerapan tenaga kerja lokal belum optimal serta keterkaitan dengan pelaku usaha lokal masih lemah.
Ia juga mengkritisi bahwa agenda hilirisasi belum berjalan maksimal di tingkat daerah. “Hilirisasi masih banyak berhenti di tataran konsep, belum menjadi ekosistem industri yang hidup di kabupaten dan kota,” katanya.
Selain itu, wacana penguatan peran daerah sebagai penopang Ibu Kota Nusantara (IKN) dinilai belum sepenuhnya tercermin di lapangan. Putri menyebut masih adanya ketimpangan infrastruktur, keterbatasan akses ekonomi masyarakat, serta kesenjangan antarwilayah.
“Ini menunjukkan adanya jarak antara perencanaan dan implementasi,” tegasnya.
Karena itu, Kadin Kaltim mendorong perubahan orientasi kebijakan agar investasi memberikan dampak langsung terhadap penyerapan tenaga kerja dan keterlibatan UMKM. Hilirisasi juga diharapkan berbasis potensi wilayah, sementara IKN harus diposisikan sebagai pasar nyata bagi pelaku usaha lokal.
“Pertumbuhan ekonomi harus benar-benar dirasakan oleh dunia usaha dan masyarakat,” tambah Putri.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan Kadin Kaltim, Bayu Reksa Nugraha, menyebut kegiatan business matching menjadi langkah konkret untuk menjawab persoalan klasik UMKM.
“UMKM kita banyak, tetapi belum naik kelas. Produknya ada, namun belum terkoneksi dengan pasar modern dan buyer internasional,” ujarnya.
Sebagai langkah lanjutan, Kadin Kaltim menyiapkan sembilan program strategis bertajuk Trade Revolution 2026–2031. Program ini mencakup pengembangan peta perdagangan digital (Trade Map), UMKM Scale Up 100, akses pembiayaan non-bank, hingga pelatihan ekspor melalui Trade Academy.
Kegiatan ini merupakan inisiatif Pemerintah Provinsi Kaltim melalui DPPKUKM. Sebanyak 21 UMKM yang terlibat telah melalui proses kurasi ketat sebelum dipertemukan dengan dua pembeli dari Malaysia.
Kepala DPPKUKM Kaltim, Heni Purwaningsih, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membuka akses pasar ekspor sekaligus meningkatkan daya saing produk daerah.
Respons positif dari pembeli mulai terlihat, salah satunya terhadap produk madu asal Kaltim. Pelaku UMKM Madu Lowahani, Trisna Hidayat, mengungkapkan bahwa pihak Malaysia mempertimbangkan tiga aspek utama, yakni harga yang kompetitif, ketersediaan pasokan yang stabil, serta keunikan produk.
“Mereka tertarik pada madu akasia yang berwarna lebih gelap. Sementara madu kelulut memiliki rasa yang cenderung asam, sehingga tidak semua konsumen cocok,” jelasnya.
Ia menambahkan, untuk memenuhi kebutuhan ekspor dalam skala besar, diperlukan kolaborasi antarpetani lebah. “Tidak bisa sendiri. Harus berbasis komunitas agar kapasitas produksi bisa terpenuhi secara berkelanjutan,” pungkas Trisna. (Humas Kadin)
