BEKAL MUDIK KE KAMPUNG HALAMAN SEJATI (Sebuah Renungan Reflektif)

BEKAL MUDIK KE KAMPUNG HALAMAN SEJATI (Sebuah Renungan Reflektif)
Foto: Dr. Abrar Bahari, Lc., MA (Komisi Fatwa MUI Bulukumba dan Pengasuh Ponpes Darul Ishlah Bulukumba)

Oleh : Dr. Abrar Bahari, Lc., MA

OPINI - Sekaitan dengan momentum Idul Fitri, ada satu pertanyaan reflektif yang seharusnya hadir dalam benak kesadaran kita: jika kita begitu bahagia mempersiapkan mudik ke kampung halaman dunia, sudahkah kita juga serius mempersiapkan mudik yang lebih hakiki pulang ke kampung halaman sejati, yaitu kampung akhirat, di surga?

Dalam teologi Islam, manusia bukanlah makhluk yang “bermula” dari bumi. Al-Qur’an mengisahkan bahwa Nabi Adam dan Hawa pertama kali ditempatkan di surga sebelum kemudian diturunkan ke bumi. Allah SWT berfirman:

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ

“Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga…” (QS. Al-Baqarah: 35).

Ayat ini bukan sekadar kisah awal penciptaan, tetapi juga mengandung pesan eksistensial yang mendalam: surga adalah kampung asal manusia.

Kehidupan di dunia pada hakikatnya adalah terminal persinggahan sebelum menuju alam barzakh, alam mahsyar, dan pada akhirnya sampai di tujuan akhir, yaitu kampung akhirat. Ini adalah perjalanan panjang untuk kembali ke kampung halaman.

Kesadaran ini semestinya mengubah cara pandang kita terhadap dunia. Dunia bukan tujuan akhir, melainkan terminal sementara. Ia bukan tempat menetap, tetapi tempat transit. Rasulullah SAW mengibaratkan manusia sebagai seorang musafir: “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir” (HR. Bukhari).

Seorang musafir tidak akan membangun rumah megah di tempat singgah. Ia juga tidak akan menaruh seluruh hatinya pada sesuatu yang akan segera ia tinggalkan. Fokusnya adalah tujuan, bukan sekadar perjalanan.

Di sinilah letak paradoks kehidupan manusia modern. Banyak orang justru memperlakukan dunia sebagai kampung abadi. Energi, waktu, dan pikiran tercurah untuk mengejar harta, jabatan, dan status sosial, seolah-olah kehidupan ini tidak akan pernah berakhir. Pada saat yang sama, bekal untuk “pulang” justru diabaikan. Amal saleh dan ibadah menjadi sisa, bukan prioritas.

Jika dibandingkan secara jujur, persiapan mudik dunia sering kali jauh lebih matang daripada persiapan mudik akhirat. Untuk pulang kampung, kita memastikan kendaraan dalam kondisi prima, menyiapkan biaya yang cukup, bahkan merencanakan perjalanan jauh-jauh hari. Namun, untuk perjalanan menuju akhirat yang waktunya tidak pernah pasti kita sering berjalan tanpa persiapan yang memadai.

Padahal, mudik dunia masih memiliki banyak alternatif. Jika tertinggal bus atau pesawat, kita masih bisa berpindah ke moda transportasi lain. Sebaliknya, mudik ke akhirat tidak menyediakan kesempatan kedua.

Idul Fitri seharusnya menjadi momentum untuk menyadari hal ini. Ia bukan sekadar perayaan kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga simbol kepulangan spiritual.

Pada akhirnya, hidup ini adalah perjalanan pulang. Setiap detik yang berlalu merupakan langkah yang mendekatkan kita pada tujuan akhir. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita akan sampai atau tidak, tetapi dalam keadaan seperti apa kita akan tiba: dengan bekal yang cukup atau dengan tangan hampa.

Idul Fitri mengajarkan bahwa pulang bukan sekadar berpindah tempat, melainkan kembali kepada asal. Jika mudik ke kampung halaman dunia selalu disambut dengan sukacita, maka sudah sepatutnya mudik ke akhirat dipersiapkan dengan lebih serius dan penuh perhitungan. Sebab di sanalah manusia tidak hanya kembali, tetapi juga menetap untuk selamanya dengan dua kemungkinan: surga atau neraka.

اللهم إنا نسألك الجنة وما قرب إليها من قول وعمل، ونعوذ بك من النار وما قرب إليها من قول وعمل

Disarikan dari materi khutbah Idul Fitri 1447 H (1 Syawal 1447 H) di Masjid Nurul Hasanah, Kajang, Bulukumba.