MENJAGA AMAL BATIN PASCA RAMADHAN

MENJAGA AMAL BATIN PASCA RAMADHAN
Foto: Dr. Abrar Bahari, Lc., MA (Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ishlah Bulukumba)

Oleh : Dr. Abrar Bahari, Lc., MA

OPINI - Ramadhan telah beranjak pergi, meninggalkan jejak-jejak sunyi di hati yang selama sebulan dilatih untuk lebih bersyukur, lebih sabar, dan lebih dekat kepada Allah Swt.

Di bulan Ramadhan, kita tidak hanya menahan lapar dan dahaga, menahan syahwat perut dan di bawah perut, tetapi juga menahan diri dari hal-hal yang bisa merusak batin: amarah, riya’, ujub, dengki, dan ghaflah (lalai).

Pertanyaannya menjadi lebih serius: apakah yang akan kita bawa setelah Ramadhan berlalu? Apakah ibadah hanya akan menjadi kenangan musiman yang sifatnya temporer, ataukah ia bermetamorfosa menjadi karakter yang bersemayam dalam diri?

1. Integritas: Ujian Pertama

INTEGRITAS adalah ujian pertama pasca Ramadhan. Di bulan suci, kita begitu mudah menjadi “saleh” karena miliunya mendukung: masjid ramai, tilawah hidup, dan dosa terasa sungkan untuk dilakukan. Namun setelah itu, kita kembali pada hiruk pikuk dunia yang melenakan.

Di sinilah integritas menemukan maknanya: ketika seseorang tetap menjaga ketaatan, bukan karena dilihat, tetapi karena merasa diawasi oleh Allah (Muraqābatullah). Integritas adalah kemampuan untuk tetap jujur dalam kesendirian, tetap lurus saat tidak ada tepuk tangan pujian, dan tetap taat meski godaan dan syubhat kembali menyambar-nyambar.

2. Resiliensi Spiritual

Kehidupan pasca Ramadhan penuh dengan ujian, karenanya dibutuhkan kemampuan RESILIENSI spiritual. Agar tidak kembali meremehkan dosa, lalai dalam ibadah, atau melupakan sang Pencipta.

Ramadhan telah melatih kita lebih dekat dengan Tuhan (ma'iyatullāh); maka setelahnya, kita merasa kehilangan setiap kali menjauh. Kesadaran inilah yang seharusnya menjadi energi untuk terus berbenah, terus memperbaiki diri, dan tidak menyerah pada kelemahan diri.

3. Produktivitas yang Berkelanjutan

Lebih jauh, Ramadhan juga seharusnya melahirkan PRODUKTIVITAS ibadah yang berkelanjutan (Istimrār). Jika selama sebulan kita mampu mengkhatamkan Al-Qur’an lebih banyak, lebih ringan bersedekah, dan lebih khusyuk dalam shalat, maka itu adalah bukti bahwa sebenarnya kita mampu melaksanakan amal ketaatan.

Produktivitas pasca Ramadhan bukan tentang mempertahankan kuantitas yang sama persis, tetapi tentang menjaga kesinambungan (Istiqāmah). Bahkan amal yang sedikit, jika dilakukan secara konsisten, lebih dicintai oleh Allah daripada amal besar yang hanya sesaat (HR. Bukhari & Muslim).

Penutup: Titik Tolak, Bukan Garis Finish

Dari sinilah lahir dimensi kompetitif dalam ibadah: Berlomba dengan orang lain dalam kebaikan, dan berjuang melawan diri sendiri (Mujāhadatuh al-nafs) untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Pada akhirnya, Ramadhan bukanlah garis finish, melainkan titik tolak. Ia adalah madrasah yang seharusnya melahirkan pribadi-pribadi yang lebih utuh, yang hatinya hidup, jiwanya tangguh, dan amalnya terus bertumbuh.

Yang paling mengkhawatirkan bukanlah berakhirnya Ramadhan, tetapi berakhirnya semangat untuk menjadi hamba yang lebih baik setelah ia pergi.

 من كان يعبد رمضان فإن رمضان قد فات ، ومن كان يعبد الله فإن الله باقٍ لن يفوت.

ﺑﺌﺲ ﺍﻟﻘﻮﻡ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻻ ﻳﻌﺮﻓﻮﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ.

*اللهم اجعلنا ربانيين ولا تجعلنا رمضانيين*